BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Bimbingan dan
Konseling merupakan bagian integral dalam pendidikan.Hal ini tersirat makna
bahwa antara pendidikan dan BK menjadi bagian yang tak terpisahkan. Pada
umumnya dalam proses pendidikan yang baik terdapat program BK yang memberikan
layanan sesuai kebutuhan siswa. Dengan demikian hubungan antara program BK dan
pendidikan adalah saling mendukung. Dasar pertimbangan atau pemikiran
diselenggarakannya Bimbingan dan Konseling di Sekolah bukan hanya semata-mata
terletak pada ada atau tidaknya landasan hukum (perundang-undangan), namun yang
lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu
mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas perkembangannya
(menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial, dan moral-spiritual).
Dalam menyelenggarakan
layanannya, Bimbingan dan Konseling menyesuaikan dengan kebutuhan peserta
didik. Program Bimbingan dan Konseling meliputi empat bidang layanan yaitu
bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir. Selain itu, juga meliputi empat
komponen layanan, yaitu layanan dasar, layanan responsif, layanan perencanaan
individual dan dukungan sistem.Konselor menggunakan teknik tertentu sebagai
upaya memahami potensi klien dan memperoleh data yang seakurat mungkin yang
dapat dipergunakan sebagai informasi pendukung dalam menyelesaikan masalah
klien.Bahkan terdapat asumsi bahwa semakin banyak data yang diperoleh dari
klien, maka semakin tepat dalam pemberian layanan (penyelesaian masalah).
Proses pemerolehan
data untuk memahami individu terdiri dari teknik tes dan non tes. Teknik non
tes pada umumnya dilakukan dengan wawancara (interview), observasi,
dokumentasi, sosiometri dan sebagainya.Sedangkan teknik tes diberikan dengan
menyelenggarakan program testing untuk mengetahui potensi atau kemampuan
klien.Dalam kode etik profesi BK disebutkan bahwa dalam BK terdapat layanan
informasi, testing dan riset. Dengan demikian, program testing merupakan
program yang dipandang urgen dan perlu untuk dilakukan dengan dasar pemikiran
bahwa hasil testing dapat melengkapi hasil non testing.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana kedudukan
tes dalam bimbingan dan konseling ?
2. Bagaimana cara
penggunaan tes dalam bk?
3. Bagaimana kode etik
tes dalam bk ?
C.
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui kedudukan
tes dalam bimbingan dan konseling
2. Mengetahui tata cara
penggunaan tes dalam bk
3. Memahami kode etik tes
dalam bk
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Kedudukan Dan Peran Tes Dalam BK
Test mendapat tempat sentral dalam layanan
bimbingan dan konseling. Menurut Shertzer& Stone (1981) dan NA
PPPK (2008) ada beberapa komponen layanan program bimbingan di mana di dalam
komponen tersebut, tes mempunyai tempat yang sentral dan penting, yaitu:
1.
Layanan Dasar Bimbingan
Layanan dasar
merupakan proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui penyiapan
pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara
sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan
tahap dan tugas-tugas perkembangan yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan
memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya.
Komponen yang terdapat
dalam layanan dasar antara lain bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karir.
Pelaksanaan layanan dasar ini sangat memerlukan instrumen asessmen sebagai
pijakan dalam memberikan bimbingan. Contohnya, dalam bimbingan
kelompok yang bertujuan untuk merespon kebutuhan dan minat peserta didik,
konselor memerlukan data pendukung, misalnya berupa hasil tes prestasi belajar
dari sekelompok siswa yang akan dibimbing. Hasil tes prestasi belajar membantu
menunjukkan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa berkaitan dengan
belajar. Dengan demikian tes dapat dikatakan berperan sebgai alat untuk
membantu konselor memahami siswanya dengan lebih baik dan menyeluruh sehingga
siswa yang dibimbing dapat memahami dirinya sendiri dan bisa mengambil
keputusan secara tepat (J Cronbach: 1949).
2.
Layanan Responsif
Pelayanan responsif
merupakan pemberian bantuan kepada konseli yang menghadapi kebutuhan dan
masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera, sebab jika tidak segera
dibantu dapat menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas
perkembangan. Komponen kegiatan yang terdapat dalam layanan responsif antara
lain: konseling individual dan kelompok; layanan referral; kolaborasi dengan
guru atau wali kelas; kolaborasi dengan orang tua; kolaborasi dengan
pihak-pihak terkait di luar sekolah, layanan konsultasi; bimbingan teman
sebaya; konferensi kasus; dan kunjungan rumah.
Secara umum,
keseluruhan layanan yang terdapat dalam layanan responsif memerlukan bantuan
instrumen baik tes maupun non tes dalam penyelenggaraannya.Penggunaan instrumen
tes bertujuan untuk membantu konselor memperoleh pemahaman yang lebih baik
terhadap siswa yang dibantu dari sisi psikologisnya. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa tes berperan dalam proses penyelesaian masalah psikologis
siswa.
Selain berperan dalam
penyelesaian masalah psikologis siswa, dalam kegiatan layanan responsif
khususnya kegiatan layanan konseling individual dan kelompok, tes memiliki
peran sebagai data tambahan dalam proses konseling. Jadi, perencanaan, seleksi,
administrasi dan skor tes digunakan konselor dalam menyelenggarakan proses
konseling. Testing dilakukan untuk memperoleh data secara obyektif. Di sekolah,
sebagian besar tes digunakan untuk memberikan tanda adanya hubungan konseling,
menjawab pertanyaan, menyediakan informasi dan mencapai tujuan pemberian
testing. Oleh karena itu testing merupakan bagian yang integral dalam proses
konseling.
3.
Layanan Perencanaan Individual
Dalam layanan
perencanaan individual, konselor membantu peserta menganalisis kekuatan dan
kelemahan dirinya berdasarkan data atau informasi yang diperoleh yaitu
menyangkut pencapaian tugas-tugas perkembangan atau aspek-aspek pribadi,
sosial, belajar dan karier. Melalui kegiatan penilaian diri ini, peserta didik
akan memiliki pemahaman, penerimaan dan pengarahan dirinya secara positif dan
konstruktif sehingga siswa bisa merencanakan sesuatu berbasis kekuatan atau
potensi diri yang dimilikinya. Dengan demikian, kedudukan tes dalam kegiatan
perencanaan individual adalah memberikan informasi dalam mengambil keputusan.
4.
Dukungan Sistem
Dukungan sistem adalah kegiatan manajemen yang
bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan
secara menyeluruh melalui pengembangan professional; konsultasi dengan guru dan
segenap komponen sekolah, staf ahli/penasihat, hubungan orang tua
dan masyarakat luas; manajemen program, penelitian dan pengembangan (Ellis,
1990).[1]
Kegiatan utama layanan dasar bimbingan,
responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem dalam implementasinya
didukung oleh beberapa jenis layanan bimbingan dan konseling. Dari berbagai
layanan pendukung ada beberapa layanan yang menempatkan tes sebagai salah satu
instrumennya antara lain:
a.
Layanan Informasi
Layanan informasi
diselenggarakan dalam rangka memberikan pengetahuan kepada siswa terkait dengan
bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karir. Informasi yang dapat diberikan
oleh konselor meliputi strategi pengembangan kepribadian, keterampilan
pengembangan kemampuan intrapersonal dan interpersonal, kesempatan pendidikan,
vokasional, strategi belajar, pengambilan keputusan yang tepat dan bimbingan
lain yang terkait.
Dalam memberikan
layanan informasi, konselor dapat menghimpun data hasil tes maupun nontes.Kedua
data ini bersifat saling mendukung dan saling melengkapi. Siginifikansi skor
tes akan lebih baik apabila dikombinasikan dengan hasil wawancara, studi kasus
dan metode lainnya. Fakta menunjukkan bahwa tes membantu dalam pemahaman
individu dan pengambilan keputusan (Cronbach, 1949).Berkaitan dengan tes, maka
hasil tes dapat digunakan oleh konselor sebagai salah satu media dalam layanan
informasi sehingga siswa dapat mengetahui potensi dirinya, konselor dapat
membantu siswa untuk mempersiapkan diri dan masa depannya.
Layanan informasi
dapat diberikan secara langsung maupun tidak langsung.Informasi dapat diperoleh
konselor dari buku, internet, mendatangkan narasumber, atau informasi yang
diperoleh dari stakeholder.Layanan inforamsi dapat diberikan melalui kegiatan
bimbingan baik individual maupun kelompok (bimbingan, konseling, seminar,
lokakarya dan pemberian brosur/leaflet).
b.
Layanan Konseling
Layanan konseling
diberikan untuk memfasilitasi pemahaman diri dan perkembangan konseli melalui
hubungan individual maupun kelompok. Fokus utama konseling cenderung pada
perkembangan pribadi dan pembuatan keputusan berdasarkan pemahaman diri dan
pengetahuan lingkungan. Dalam penyelenggaraan layanan konseling, konselor
memerlukan data pendukung, baik tes maupun nontes. Data-data ini dihimpun untuk
memberikan informasi yang komprehensif pada konseli (siswa).
c.
Layanan Konsultasi
Konsultasi dirancang
untuk memberikan bantuan teknis kepada guru, administrator dan orang tua dalam
rangka memberikan layanan secara efektif dan memperbaiki kinerja
sekolah.Konsultasi dapat dilakukan dengan meminta narasumber dari ahli terkait
seperti ahli medis, bengkel kerja, ahli hukum dalam penyelenggaraan Career
Day. Narasumber yang diundang diharapkan dapat memberikan informasi
kepada orang tua dan siswa tentang potensi siswa.Informasi yang disampaikan itu
berbasis data, baik tes maupun non-tes.
d.
Layanan Penempatan
Layanan penempatan
adalah suatu kegiatan bimbingan yang dilakukan untuk membantu individu atau
kelompok yang mengalami mismatch (ketidaksesuaian antara potensi dengan usaha
pengembangan), dan penempatan individu pada lingkungan yang sesuai bagi dirinya
serta pemberian kesempatan kepada individu untuk berkembang secara optimal.
Penempatan ini
dilakukan dengan menyesuaikan siswa sesuai kondisi dan kemampuan seperti
kelompok belajar, kegiatan ekstrakurikuler, penjurusan, pemilihan karir dan
pengambilan keputusan.Data hasil tes berupa intelegensi, bakat dan minat
kemudian diintepretasikan dan dapat digunakan untuk membantu siswa memilih dan
mengambil keputusan tentang masa depannya.Sedangkan data nontes seperti hasil
wawancara dan observasi dapat digabungkan dan dikomplementerkan dalam rangka
mengarahkan siswa dalam mengambil keputusan.Fakta menunjukkan bahwa tes
membantu dalam pemahaman individu dan pengambilan keputusan (J Cronbach: 1949).
Menurut Munandir
(1988) informasi yang dibutuhkan konseli antara lain bimbingan dan konseling
vokasional. Salah satu penggunaan tes dalam konseling vokasional adalah
membantu individu memperoleh kesuksesan karir.Tes data memberikan jawaban
tentang jabatan-jabatan yang tersedia, identifikasi alternatif jabatan, seleksi
jabatan, perkembangan persiapan jabatan dan penempatan (placement).
Anne Anastasia dan
Susan Urbina (1971) menyatakan bahwa testing digunakan dalam bimbingan
pendidikan dan jabatan seta dipakai untuk merencanakan segala aspek dalam
kehidupan individu.Perkembangan individu ini menekankan pada penggunaan tes
untuk meningkatkan pemahaman diri dan pengembangan personal. Dalam kerangka
kerja ini, skor tes menjadi bagian informasi yang diberikan pada individu dalam
proses pengambilan keputusan.
Berdasarkan uraian di
atas, dapat dikatakan bahwa kedudukan tes dalam layanan penempatan adalah
memberikan informasi dalam mengambil keputusan. Peran tes dalam kegiatan
penjurusan ini serupa juga dalam hal kegiatan penyaluran.Konselor di sekolah
membantu siswa dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan bakat
dan minat.Selain penyaluran dalam kegiatan ekstrakurikuler juga dilakukan
pelayanan penyaluran dalam bidang pemilihan sekolah lanjutan yang sesuai dengan
kemampuan anak. Semua kegiatan di atas menguatkan peran tes sebagai pemberi
informasi dalam proses pengambilan keputusan.
e.
Layanan Appraisal dan Tindak Lanjut
Layanan appraisal
dirancang untuk mengumpulkan, menganalisa dan menggunakan data obyektif tentang
sejauh mana siswa berhasil memahami diri dan mencapai tugas-tugas
perkembangannya.Layanan ini sekaligus secara tidak langsung dapat berfungsi
untuk menilai keberhasilan program bimbingan secara keseluruhan.Dari hasil
penilaian ini selanjutnya dianalisis dan kemudian merencanakan tindak lanjut
bimbingan.
Untuk tujuan tersebut,
data merupakan alat atau media informasi yang perlu digali untuk memperoleh
gambaran tentang siswa, baik yang sifatnya internal (potensi siswa,
kepribadian, minat, bakat) maupun eksternal (kondisi lingkungan di rumah, dan
di luar sekolah).Melalui data atau informasi tentang siswa tersebut, konselor
dan guru diharapkan dapat lebih memahami siswa dan membantu siswa dalam
mencapai tugas perkembangannya.
Data atau informasi
tentang siswa diperoleh melalui pengumpulan data.Pengumpulan data dapat
dilakukan dengan menggunakan teknik, baik tes maupun nontes.Dalam
penyelenggaraan teknik tes, konselor perlu bekerjasama dengan lembaga/biro
psikologi. Dari hasil tes tersebut, psikolog membuat suatu interpretasi yang
kemudian akan disampaikan kepada konselor. Selanjutnya tugas konselor adalah
menginformasikan kepada konseli atau orang tua dan menggunakan data atau hasil
tes tersebut untuk kepentingan yang terkait dengan kebutuhan siswa.Tes yang
pada umumnya digunakan di sekolah seperti tes intelegensi, kepribadian, bakat,
dan minat. Sedangkan tes yang bisa digunakan oleh konselor tanpa harus dengan
bantuan psikolog antara lain tes prestasi belajar.
Penyelenggaraan
pengumpulan data teknik nontes dapat dilakukan dengan observasi, wawancara,
dokumentasi dan sosiometri. Data hasil nontes antara lain transkrip wawancara,
catatan observasi, dokumen foto dan data serta data sosiometri. Melalui hasil
data-data baik tes maupun nontes diharapkan membantu siswa untuk menerima,
memahami dan mengoptimalkan potensi diri.[2]
B.
Penggunaan Tes Dalam Bk
1.
Pemilihan Tes Berdasarkan Kriteria
Untuk
melaksanakan tes dalam bimbingan konseling hal penting yang harus
dilakukan adalah memilih atau menyeleksi alat tes yang harus digunakan untuk
keprluan tertentu, salah satu hal penting adalah kriteria tes. Ada
pun kriteria tes yang baik yakni;
a.
Norma usia
Dalam tes usia sangat berpengaruh terhadap
kondiisi testi, oleh karena itu norma usia merupakan kriteria penting. Norma
usia dapat mempresentasikan performa tes individu-individu yang dikelompokkan
dan dinormakan berdasarkan usia kronologisnya.
b.
Validitas
Suatu tes layak digunakan apabila memenuhi
kriteria valid, baik dalam konstruksi atau penyusunan maupun dari segi
isi.Validitas konstruk menyoroti ketepatan teori atau konsep yang melandasi
instrument tes tertentu, sedangkan validitas isi mencakup hal-hal yang hendak
diketahui melalui tes tersebur harus terwakili didalam isi dari suatu tes
tertentu.
c.
Reliabilitas
Reliabilitas tes memampukam konselor atau pengguna
lainnya menentukan taraf di mana bisa melakukan prediksi secara konsisten.
d.
Praktikalitas
Dalam pelaksanaan tes, kriteria penting
lainnya adalah suatu tes tertentu harus praktis dalam
penggunaan, dalam penskoran, dan dalam menginterpretasikannya. Kepraktisan lain
yang harus di pertimbangkan adalah dari segi biaya dan waktu yang di perlukan.
2.
Tujuan Tes Dalam BK
Untuk keperluan
bimbingan konseling, konselor harus memiliki sejumlah informasi yang berkaitan
dan akurasi mengenai individu dan juga kondisi serta situasi yang ada bahkan
informasi lain yang berasal dari orang lain diluar indiividu. Oleh karena itu
tes dilakukan guna memperoleh informasi atau data yang penting dan akurat.
Dalam pelaksanaan tes ada dua kategori tujuan, yakni;
a. Tes untuk keperluan
non-konseling (noncounseling uses of test) yang mencakup (a) seleksi
calon untuk penempatan pada lembaga/instiusi, (b) penempatan individu pada
institusi, (c)penyesuaian institusi dilakukan guna menemukan kebutuhan dan
karakteristik individu tertentu, dan (d) melakukan pengembangan dan revisi
institusi untuk menemukan kebutuhan dan karakteristik siswa atau
karyawan/pekerja pada umumnya.
b. Penggunaan tes untuk
konseling (counseling uses of test) artinya setelah tes dilakukan,
informasi yang telah diperoleh dapat ditindak lanjut untuk keperluan konseling.
Super (1957b) dan Bordin (1955) berpendapat bahwa informasi tersebut dapat
digunakan dalam Tiga kategori, (a) diagnosis informasi prakonseling (precounseling
diagnostic information), (b) informasi untuk proses konseling (information
for the counseling itself), dan (c) informasi untuk perencanaan dan
tindakan setelah konseling (information for postcounseling plans and action).
3.
Jenis-Jenis Tes
Setelah diketahui
bahwa tes yang hendak digunakan merupakan tes standar maka dalam bimbingan
konseling ada beberapa instrument atau alat tes yang dapat di gunakan untuk
kepentingan penyelenggaraan program bimbingan dan konseling.Jenis-jenis tes
tersebut antara lain adalah :
a. Tes Kecerdasan
Tes kecerdasan
digunakan untuk mengukur kemampuan akademik, kemampuan mental dan kemampuan
kecerdasan, yang paling populer dari tes ini adalah digunakan untuk mengukur
IQ atau sering dikenal dengan nama tes kecerdasan Stanford-Binet,
sesuai dengan nama perancang yakni Alfred Binet pada tahun
1900-an. Selain itu ada pun tes lain yang bisa digunakan yakni
skala Wechsler yang dirancang oleh David Wechsler. Skala
Wecshler dirancang berbdasarkan perbedaan usia antara lain Wechsler Preschool
and Primary Scale of Intelligence III (WPPSI-III) dirancang khusus
untuk anak-anak usia 2 Tahun 6 Bulan sampai 7 Tahun 3 Bulan. Wichsler
Intelligence Scale for Cildren-Fourt Edition (WISC-IV) dirancang untuk
anak-anak usia 6 Tahu sampai remaja usia 16 tahun dan Wechsler Adult
Intelligence Scale-Third Edition (WAIS-III) dirancang untuk remaja
usia 16 tahun hingga manula usia 89 Tahun
b. Tes Bakat
Tes bakat banyak
digunakan oleh para konselor dan tenaga professional lainnya untuk
mengidentifikasi (a) kemampuan potensial yang tidak disadari individu, (b)
mendukung pengembangan kemampuan istimewa atau potensial individu tertentu, (c)
menyediakan informasi untuk membantu individu membuat keputusan pendidikan
dan karir atau alternative pilihan yang ada (d) membantu memprediksi
tingkat sukses akademis atau pekerjaan yang bisa di antisipasi individu dan
(e) berguna bagi mengelompokkan individu dengan bakat
serupa bagi tujuan perkembangan kepribadian dan pendidikan. Tes bakat dapat
dilakukan untuk mengungkapkan antara lain bakat Khusus, tes bakat umum, tes
bakat unik tes bakat skolastik dan lainnya.
c. Inventiori Minat
Inventori minat
dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa pada setiap individu ada perbedaan dalam
minat baik secara umum maupun minat pekerjaan tertentu. Karena
itu inventori minat dirancang untuk menilai minat-minat pribadi dan
mengaitkan minat-minat tersebut dengan wilya kerja yang lain.
d. Tes Kepribadian
Anastasi dan Urbina,
1997 berpendapat bahwa tes kepribadian merupakan instrument untuk mengukur
karakteristik emosi, motivasi, hubungan antar pribadi dan sikap, sesuatu yang
dibedakan dari bakat atau ketrampilan. Tes kepribadaian yang standard an
popular digunakan antara lain Indikator Tipe Kepribadian
Myers-Briggs (MBTI), Jadwal Preferensi Pribadi Edwards (EPPS) dan
Inventori Multifase Minesota (MMPI).
e. Tes Prestasi
Tes prestasi belajar
berhubungan dengan tingkat pengetahuan, keterampilan atau pencapaian dalam
suatu bidang sehingga dapat digunakan untuk mengidentifikasi prestasi
anak-anak, mengelompokkan siswa menurut tingkat pengetahuannya dan memberikan
informasi pada orang tua tentang kelemahan dan kelebihan bidang akademik
anaknya.
4.
Dasar Interpretasi Tes
Interpretasi dilakukan
terhadap hasil tes yang merupakan data tentang karakteristik individu yang
telah mengikuti tes tertentu.Data yang telah diperoleh dianalisis selanjutnya
diinterpretasi guna pengambilan keputusan tindakan yang tepat.Dalam melakukan
interpretasi tersebut yang menjadi hal penting adalah pemahaman terhadap fungsi
teori dan teknik interpretasi yang memadai. Dari beberapa buku menyebutkan
bahwa interpretasi dapat dilakukan dalam empat tipe, yakni
deskriptif, genetik, prediktif, dan evaluatif.
5.
Kaitan Tes dengan Statistik
Dalam penggunaan tes
baik oleh konselor dan juga tenaga professional lainnya sangat dibutuhkan
kontribusi statistik dalam menginterpretasikan hasil tes atau penilaian.
Pemahaman mendasar tentang statistik dan psikologi memampukan
konselor untuk (a) mendeskripsikan karakteristik individu atau kelompok
dibandingkan kelompok atau populasi lain, (b) memprediksi kemungkinan sukses
atau gagalnya performa ke depan berdasarkan perilaku saat ini atau masa
lalu yang di tes, dan (c) menyimpulkan karakteristik suatu populasi
dari sampel populasi tersebut. Oleh karena itu pengatahuan tentang statistik
merupakan salah satu syarat bagi konselor atau pengguna tes.
C.
Kode Etik Penggunaan Tes Dalam Bk
Konselor sekolah
perlu: a) menyesuaikan data untuk memprediksi potensi klien; b) melengkapi data
non-tes dengan data tes; c) menginterpretasi data untuk membantu klien dalam
proses pengambilan keputusan. Tuntutan seperti ini tetap harus merujuk pada
kode etik yang ditetapkan sehingga malpraktik bisa dihindarkan.[3]
Dalam keadaan dan
maksud pengetesan apapun, berlaku kode etik testing yang harus dipatuhi tester.
Beberapa kode etik yang wajib diperhatikan oleh konselor:
1.
Pemilihan Tes
a. Klien hendaknya
terlibat dalam proses pemilihan tes, supaya tidak ada unsur pemaksaan dalam pemberian
tes oleh koselor.
b. Alasan para klien
untuk menginginkan tes, maupun pengalaman masa lalu dengan tes, hendaknya
dieksplorasi.
c. Konselor wajib
memberikan orientasi yang tepat kepada klien dan orang tua mengenai alasan
digunakannya tes disamping arti dan kegunaannya. Seorang klien harus disadarkan
bahwa tes hanya alat dan alat yang tidak sempurna. Sebagai cara untuk mencapai
tujuan, tes tidak dapat memberi “jawaban”, tes hanya memberi informasi tambahan
yang dapat digali dalam konseling dan digunakan dalam menghadapi keputusan
tertentu.
d. Konselor seharusnya
menjelaskan tujuan tes dan menunjukkan keterbatasan tes. Peranan ini berarti
bahwa konselor mempunyai pemahaman yang baik mengenai apa tes itu dan mengapa
dia mengambilnya. Hal lain yang perlu dipahami konselor adalah faktor
kultural, gender, etnik, ekonomi yang dapat mempengaruhi skor tes.
e. Testing dilakukan bila
diperlukan data yang lebih luas tentang sifat atau ciri kepribadian subyek
untuk kepentingan layanan.
f. Penggunaan suatu jenis
tes wajib mengikuti secara ketat pedoman atau petunjuk yang berlaku bagi tes
tersebut.
2.
Wewenang Pemberian Tes
Testing hanya bisa
diberikan oleh konselor yang berwenang menggunakan dan menafsirkan
hasilnya.Konselor yang berwenang adalah konselor yang telah menempuh pendidikan
sertifikasi tes dalam bimbingan dan konseling.Dalam memberikan tes, konselor
harus sadar bahwa hasil tes bukan hanya skor yang seharusnya diberikan kepada
klien, tetapi dan terlebih maknanya yang harus digali dalam menafsirkan
hasil.Konselor seharusnya bersifat netral, menahan diri dari memberi penilaian
sebanyak mungkin dan membiarkan klien merumuskan makna dan kesimpulan mereka
sendiri.
3.
Penggunaan Hasil Tes
a. Data hasil testing
wajib diintegrasikan dengan informasi lain yang telah diperoleh dari klien sendiri
atau dari sumber lain. Dalam hal ini data hasil testing wajib diperlakukan
setara dengan data dan informasi lain tentang klien.
b. Hasil testing hanya
dapat diberitahukan kepada pihak lain sejauh ada hubungannya dengan usaha
bantuan kepada klien.[4]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kedudukan dan peran
tes dalam bk
mendapat tempat sentral dan penting dalam layanan bimbingan dan konseling.
Penggunaan tes dalam
bk,harus dapat :
a.
Memilih tes berdasarkan
kriteria
b.
Mengetahui tujuan tes dalam bk
c.
Mengetahui jenis-jenis tes
d.
Mengetahui dasar interpretasi tes
e.
Mengerti kaitan tes dengan statistik
Dalam kode etik
penggunaan tes dalam bk, konselor sekolah perlu: a) menyesuaikan data untuk memprediksi
potensi klien; b) melengkapi data non-tes dengan data tes; c) menginterpretasi
data untuk membantu klien dalam proses pengambilan keputusan
Melalui hasil data-data baik tes maupun nontes
diharapkan membantu siswa untuk menerima, memahami dan mengoptimalkan potensi
diri.
DAFTAR PUSTAKA
http://hariadimemed.blogspot.com/2011/06/kedudukan-tes-dalam-bimbingan-dan.html Diakses pada hari
Selasa, 06 April 2015 20:13
http://paul-arjanto.blogspot.com/2011/12/kedudukan-dan-penggunaan-tes-dalam-bk.html Diakses
pada hari Selasa, 06 April 2015 19:36
[1]http://hariadimemed.blogspot.com/2011/06/kedudukan-tes-dalam-bimbingan-dan.html
[2]http://paul-arjanto.blogspot.com/2011/12/kedudukan-dan-penggunaan-tes-dalam-bk.html
[3]http://hariadimemed.blogspot.com/2011/06/kedudukan-tes-dalam-bimbingan-dan.html
[4]ABKIN,
2005. Standard Kompetensi Konselor Indonesia